Malam yang cerah, tampak beberapa bintang berkilauan memancarkan sinarnya. Wajar jika beberapa orang ingin menikmati indahnya malam dan memilih area outdoor untuk menikmati makan malam, seperti yang dilakukan Ara dan Bayu. Resto yang mereka pilih untuk makan malam kali ini menyediakan area indoor dan outdoor. Namun, suasana hangat malam itu kontras dengan wajah Ara yang sedari tadi tampak murung, dingin.
“Ada apa, Ra? Dari tadi diem aja. Ada masalah di kantor tadi?” tanya Bayu yang sedari tadi memperhatikan wanita berparas ayu di hadapannya.
Pandangan Ara yang semula memandang keluarga kecil di ujung area makan itu pun beralih ke Bayu. Sebuah senyum yang dipaksakan tersungging di bibirnya.
“Bay, kita sampai kapan seperti ini?” tanya Ara sambil menyibakkan rambut panjangnya yang legam ke belakang. Suaranya lirih hampir tak terdengar, kalah dengan suara live music di area tersebut.
Bayu pun terdiam mendengar pertanyaan Ara, tetapi dia berusaha menutupinya dengan pura-pura tidak mendengar pertanyaan Ara. “Maksudnya apa, Ra?” alih-alih menjawab, Bayu justru bertanya balik ke Ara untuk memastikan pertanyaan kekasihnya.
“Mau dibawa ke mana hubungan kita, Bay? Aku lelah dengan hubungan kita yang tak berujung. Lima tahun bukan waktu yang sebentar, Bay,” tutur Ara.
“Aku enggak paham kenapa kamu tiba-tiba bicara seperti ini. Ada yang salah dengan kita? Atau Dimas nembak kamu? Kurang ajar, nekad banget dia!” cecar Bayu yang mulai tak sabar dengan tingkah Ara.
“Kok jadi Dimas? Enggak ada hubungannya dengan dia. Ini tentang kita, jangan mengalihkan perhatian!” jawab Ara kesal. Dimas merupakan rekan kerja Ara yang baru bergabung dalam divisi Ara. Bayu tahu Dimas mendekati Ara dan memberi perhatian lebih, tetapi Ara tidak menanggapinya.
“Lagian Dimas sudah tahu tentang kita,” imbuh Ara.
“Dia sudah tahu kalau kamu pacarku, kan? Syukurlah, awas aja kalau dia berani deketin kamu,” ujar Bayu geram.
“Sudah deh Bay, jangan mengalihkan topik pembicaraan. Dimas enggak ada hubungnnya dengan pertanyaanku. Sampai kapan kita seperti ini? Jika memang kamu mau menikahiku, kapan ke rumah untuk meminangku?” cecar Ara kemudian.
Bayu terdiam, dia tak menyangka Ara akan menanyakan hal ini lagi. Bayu mencintai Ara. Namun, entah dia tak berani melangkah lebih jauh lagi untuk menikahinya. Trauma masa lalunya tentang kedua orang tuanya membuatnya takut untuk melangkah, tetapi dia menutupi hal ini dari Ara dan berdalih bahwa dia belum siap serta menghindar jika Ara membicarakan kelanjutan hubungan mereka.
“Aku sudah memikirkan hal ini berulang Bay dan Aku memutuskan untuk mengakhirinya saja. Kita berbeda. Aku menginginkan sebuah pernikahan, sebuah hubungan yang lebih dibandingkan saat ini. Sedangkan kamu, lebih nyaman seperti ini, buatmu komitmen lebih penting dibandingkan pernikahan. Komitmen seperti apa?” ujar Ara.
“Ra, aku mencintaimu. Apakah selama ini yang selama ini kulakukan belum membuatmu percaya bahwa Aku mencintaimu?” Bayu mencoba meraih tangan Ara, tetapi Ara menarik tangannya menjauh.
“Bukan cinta seperti ini yang kuharapkan, Bay. Maaf, aku menyerah, ternyata aku salah. Perbedaan kita tak bisa disatukan. Seandainya diteruskan, aku yang akan semakin sakit dan aku tidak mau menyakiti diriku lagi. Aku pamit ya,” lanjut Ara.
Ara tersenyum canggung berusaha menutupi hatinya yang bergemuruh dan segera berdiri. Bayu pun segera beranjak dan meraih tangan Ara.
“Ra, jangan tinggalkan aku,” pinta Bayu.
“Maaf, Bay. Aku sudah sangat lelah. Kamu belum yakin mau menikahiku atau tidak, kan?” jawab Ara. Ekor matanya pun kembali menangkap keakraban keluarga kecil yang tadi dilihatnya. Sebuah pemandangan yang ingin dirasakannya juga dan ini membuatnya semakin hancur.
“Kita udahan aja, ya. Aku tahu kau mencintaiku dan tidak ingin menyakitiku. Jadi, kita selesaikan ini baik-baik saja,” lanjut Ara tersenyum tipis dan menatap Bayu lekat.
“Aku pamit,” pungkas Ara dan melangkah meninggalkan Bayu. Ara pun menangis, tetapi berusaha untuk tidak menoleh ke belakang. Walaupun sebagian dari dirinya berharap Bayu akan menyusulnya. Namun, Bayu hanya terpaku memandang Ara pergi meninggalkannya.
Ara menyadari keputusannya sangat menyakitkan, tetapi lebih menyakitkan baginya jika tetap bertahan pada hubungan yang tidak berujung. Dia memilih untuk melepas cintanya.
***
Ara menikmati minggu sorenya ditemani sebuah buku dan segelas cappucino, di sebuah kafe yang dulu kerap dikunjunginya bersama Bayu. Kedatangannya kali ini bukan untuk mengenang hubungannya bersama Bayu.
Namun, untuk berdamai dengan kenangan dan dirinya sendiri. Dia memilih duduk di sudut yang berbeda tak seperti biasa yang mereka berdua kerap lakukan. Hanya untuk menghalau kenangannya bersama Bayu.
Tak dapat dimungkiri, walaupun hubungannya dengan Bayu telah berakhir lebih dari tiga tahun yang lalu, kenangan itu masih melintas dalam ingatannya. Sosok Bayu belum tergantikan oleh siapa pun. Bayu begitu sempurna bagi Ara.
Di usia Ara tak lagi muda, masih banyak lelaki yang datang, tetapi tak ada satu pun yang singgah di hatinya. Semakin kuat usahanya untuk melupakan Bayu semakin sulit pula melupakannya.
Ara telah menuntaskan makanan malamnya. Namun, dia masih ingin tinggal di kafe itu sambil menikmati secangkir cappucino dan buku favoritnya.
Seorang pramusaji datang membawa klapetart, dessert favoritnya yang sengaja dilewatkan Ara karena dia merasa sangat kenyang dengan menu makan malam yang dipilihnya tadi.
“Saya tidak memesan ini, Mbak,” ujar Ara saat pramusaji meletakkannya di meja Ara.
“Seorang pria memesankan ini untuk Anda, katanya ini makanan favorit Anda,” jawab pramusaji itu.
Ara mengedarkan pandangannya hingga ke sudut kafe dan tidak menemukan sosok yang dicarinya. “Mbak, ke mana orang yang pesan ini untuk saya?” tanyanya pada pramusaji tadi.
“Maaf saya tidak tahu,” jawabnya. Sebuah jawaban yang tidak memuaskan Ara tentunya. “Permisi,” pamitnya sembari meninggalkan Ara yang penasaran.
Belum genap rasa penasarannya, seorang pria menghampirinya. “Mengapa klapetartnya tidak dihabiskan, apakah rasanya sudah tidak enak lagi?” tanya pria tersebut.
“Boleh aku duduk di sini?” tanya pria itu sambil menarik kursi di hadapan Ara tanpa menunggu jawaban Ara dan berhasil membuat Ara terdiam beberapa saat.
“Kamu tambah cantik, Ra dan tampak semakin matang,” lanjutnya.
“Bayu?” tanya Ara tergagap dan hanya dijawab anggukan dan senyuman yang selama ini berusaha dilupakannya.
“Tapi, aku bukan Bayu yang dulu, Ra. Aku sudah berdamai dengan masa laluku dan saat ini aku sudah siap melanjutkan hidupku yang seharusnya,” lanjut Bayu.
Dia pun bercerita bahwa setelah kepergian Ara, dia pun terpuruk. Atas saran neneknya, dia memutuskan menemui psikolog untuk mengonsultasikan kondisinya. Bayu telah berdamai dengan trauma masa lalunya yang menghantuinya dan menghancurkannya perlahan.
“Then this is me, Ra. Aku sudah memaafkan dan berdamai dengan traumaku. Aku pun masih sendiri, Ra. Kamu terlalu sempurna untuk digantikan,” lanjut Bayu. Ara terkesiap mendengarnya dan tersipu.
“Ra, masih adakah ruang di hatimu untukku? Aku berharap suatu saat untuk bertemu denganmu lagi dan berharap kita menikah. Kamu masih sendiri kan, Ra?” selidik Bayu.
“Menikah?” tanya Ara tak percaya dengan yang didengarnya barusan.
“Aku meninggalkan negeri ini untuk menenangkan diri dan melupakanmu, Bay. Aku baru datang kemarin karena aku mengambil cuti tahunan,” lanjut Ara.
“Ternyata justru menemukan cinta lamamu di sini,” sahut Bayu.
“Ra, aku ingin menjadi cintamu kini dan nanti,” lanjut Bayu, sembari meraih tangan Ara dan menggenggamnya. Tatapan Ara melekat tajam pada Bayu seolah tak percaya. Apa yang diinginkannya dulu akhirnya terwujud.
Ada Apa Dengan Cinta dan Rasa
Cerita di atas merupakan karya saya beberapa waktu yang lalu dengan judul Klapetart. Sebuah cerita fiksi yang terangkum dalam antologi Cinta dan Rasa bersama 19 penulis lainnya. Kebetulan beberapa teman telah bekerja sama dalam proyek antologi sebelumnya. Ada juga yang baru bergabung,
Ada apa dengan cinta dan rasa? Hmm mirip sebuah judul film yang dibintangi Nicholas Saputra dan DIan Sastro lebih dari 2 dekade silam, bukan?
Cinta dan rasa merupakan tema yang diangkat dalam antologi ini dan ternyata juga dipilih sebagai judul buku. Sengaja memilih tema cinta dan rasa, karena cinta itu universal dan berhak dimiliki siapapun terlepas siapa atau apa yang dicintai atau mencintainya.
Sama halnya dengan rasa, setiap orang pun berhak memberikan dan menerima rasa yang ada, baik rasa sakit, sedih, bahagia dan rasa lainnya. Manusia merupakan makhluk yang tidak hanya memiliki otak, tetapi juga hati atau perasaan. Sehingga wajar jika menggunakan perasaan dalam berinteraksi. Selama tidak berlebihan, tak mengapa sih
Cinta dan Rasa Milik Semua Orang
Karya 20 penulis dalam buku Cinta dan Rasa merupakan karya yang ditulis dari hati sang penulis. dengan harapan pembacanya dapat merasakan apa yang ingin disampaikan penulis dalam ceritanya.
Cinta dan rasa milik semua orang. Suatu hal yang kadang sulit dipahami bagi sebagian orang. Namun, lebih banyak dipahami bagi sebagian yang lain.
Semoga karya ini menemukan pembacanya.dan terhibur dengan cerita yang disajikan dengan hati. Sesuatu yang disampaikan dengan hati akan dirasakan juga oleh orang sekitarnya.
Cerita yuk di kolom komentar tentang pengalaman Sobat Dy yang terkait dengan cinta dan rasa selama ini.



















