"Bapak dan Ibu, hasil diagnosis putra Bapak dan Ibu, Saka autisme nonverbal," ujar dokter Ana.
Kalimat yang keluar dari bibir dokter Ana terdengar seperti gema yang berulang-ulang di telinga Ajeng. Dahi Ajeng mengernyit. Otaknya berusaha memahami istilah yang baru pertama kali didengarnya itu.
“Maksudnya bagaimana, Dok?” tanyan Ajeng pelan nyaris tak terdengar.
Dokter Ana menatap mereka dengan penuh empati, "Diagnosis tersebut kami simpulkan berdasarkan pengamatan dan pemeriksaan yang telah dilakukan pada Saka. Bapak, Ibu perlu diketahui bahwa autisme bukan kutukan seperti mitos yang berkembang di masyarakat. Kondisi ini memang tidak bisa disembuhkan, tetapi terapi yang tepat dapat membantu meningkatkan kemampuan dan kualitas hidup Saka."
Ajeng menggenggam tangan Rama yang berada di sampingnya. Jemarinya terasa dingin. Sunyi, tapi hatinya bergmuruh.
"Bapak dan Ibu tidak sendiri. Banyak anak dengan kondisi serupa yang mampu berkembang dengan baik ketika mendapatkan dukungan yang tepat."
Netra Ajeng beralih ke sudut ruangan. Saka sedang duduk di lantai sambil memainkan sebuah bus mainan. Bukan mendorongnya seperti anak-anak lain, melainkan memutar-mutar rodanya berulang kali dengan penuh ketekunan. Dunia kecilnya seolah hanya berisi roda yang berputar.
Ajeng menahan napas. Mendadak potongan-potongan kenangan muncul dalam pikirannya. Saat anak seusia Saka mulai memanggil "Mama" dan "Papa", Saka hanya diam. Saat anak lain berlarian mengejar teman-temannya, Saka lebih suka menyendiri. Saat namanya dipanggil berkali-kali, Saka sering kali tidak menoleh. Semua tanda itu kini seperti kepingan puzzle yang akhirnya tersusun.
Perjalanan pulang terasa sunyi. Saka duduk di kursi belakang sambil memegang bus kesayangannya. Ajeng memandang keluar jendela. Jalanan sore tampak sama seperti biasanya, tetapi hidupnya terasa berubah.
"Mas..." suara Ajeng bergetar.
"Hm?" jawab Rama.
"Kenapa harus Saka?" tanya Ajeng.
Rama menghela napas panjang. "Bukan kenapa harus Saka. Mungkin pertanyaannya, kenapa Allah mempercayakan Saka kepada kita," lanjut Rama.
Ajeng terdiam. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh perlahan.
Baca juga : Belajar Jatuh CInta
***
Hari-hari berlalu dengan berbagai penyesuaian. Terapi wicara. Terapi okupasi. Terapi perilaku. Belum lagi konsultasi rutin dan berbagai pemeriksaan lanjutan. Setiap kali melihat rincian biaya, dada Ajeng terasa sesak.
Penghasilan Rama sebagai karyawan swasta sebenarnya cukup untuk kebutuhan keluarga sehari-hari. Namun, biaya terapi yang harus dibayar setiap bulan membuat mereka harus mengencangkan ikat pinggang.
Ajeng mulai belajar berjualan kue secara daring. Ia menerima pesanan kecil-kecilan dari tetangga, teman sekolah, hingga kenalan lama. Lelah, tentu, dia mengerjakannya sendiri, belum sanggup membayar pegawai. Setiap kali lelah, ia mengingat satu hal. Saka membutuhkan mereka, maka ia terus melangkah.
Setiap anak membawa rezekinya sendiri, pesan almarhum ibu Ajeng yang selalu dikenangnya sekaligus menjadi penyemangatnya. Ajeng pun mengamini hal tersebut. Sejak Saka lahir, selalu saja ada jalan ketika mereka merasa buntu.
Ketika biaya terapi meningkat, pesanan kue bertambah. Ketika harus membeli obat yang tidak murah, Rama mendapatkan bonus tak terduga dari kantor. Ketika mereka khawatir soal sekolah, muncul rekomendasi sekolah inklusi yang ternyata sesuai dengan kebutuhan Saka. Seolah Allah selalu mengirimkan pertolongan tepat pada waktunya.
Baca juga : Ada Apa Dengan Cinta dan Rasa?
***
Memasuki usia lima tahun, perkembangan Saka mulai terlihat. Ia sudah bisa mengikuti instruksi sederhana. Ia mulai mampu duduk lebih lama saat terapi. Tantrumnya berkurang. Kontak matanya semakin baik. Diet makanan yang dianjurkan dokter juga mereka jalankan dengan disiplin. Ajeng bahkan belajar membuat berbagai makanan bebas gluten dan kasein agar Saka tetap bisa menikmati camilan favoritnya.
Tidak mudah. Sering kali ia harus menjelaskan kepada keluarga besar mengapa Saka tidak boleh sembarangan makan.
"Pelit, anak enggak diberi jajan."
"Sedikit saja tidak apa-apa."
"Biarin aja, nanti juga sembuh sendiri."
Komentar-komentar itu kadang membuatnya lelah. Namun, Ajeng memilih diam daripada menanggapi satu persatu komentar itu. Orang lain mungkin tidak mengerti. Bagi Ajeng yang terpenting adalah perkembangan Saka.
***
Saat berusia enam tahun, Saka diterima di sekolah inklusi. Hari pertama sekolah menjadi momen yang tak pernah dilupakan Ajeng. Ia berdiri di balik pagar sambil memperhatikan putranya memasuki kelas. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana kalau Saka tidak bisa mengikuti pelajaran? Bagaimana kalau teman-temannya menolak kehadirannya? Bagaimana kalau ia menangis sepanjang hari?
Namun, kekhawatiran itu perlahan memudar. Guru-guru di sekolah tersebut menerima Saka dengan hangat. Teman-temannya juga mulai terbiasa dengan keunikannya. Meski masih berbeda, Saka tidak lagi sendirian.
***
Waktu berjalan. Perkembangan demi perkembangan datang. Saka mulai mengenal huruf. Kemudian membaca. Lalu menulis. Suatu sore, Ajeng hampir menangis ketika melihat tulisan tangan Saka memenuhi satu halaman buku.
Tulisan itu memang belum rapi. Beberapa huruf masih terbalik. Tetapi itu ditulis sendiri. Tanpa bantuan siapa pun. Tanpa tangannya harus dipegang seperti dulu.
"Mas!" Ajeng berlari membawa buku itu kepada Rama. "Lihat!"
Rama membaca tulisan sederhana yang memenuhi halaman tersebut. Matanya berkaca-kaca. "Anak kita hebat ya," tutur Rama.
Ajeng mengangguk. Sangat hebat. Saka bahkan mulai menyukai angka. Ia mampu mengerjakan soal hitungan yang membuat Ajeng sendiri harus berpikir lebih lama. Di sekolah, guru komputer mengatakan bahwa Saka memiliki ketertarikan luar biasa pada pola dan logika. Hal-hal yang dulu terasa mustahil kini perlahan menjadi kenyataan.
Namun ada satu hal yang masih belum berubah. Saka belum berbicara. Tidak satu kata pun.
Baca juga : Kutunggu Kau di Keabadian
***
Suatu malam, Ajeng duduk di samping tempat tidur Saka yang tertidur pulas.Wajahnya terlihat damai. Ajeng mengusap rambutnya perlahan. Tujuh tahun. Sudah hampir tujuh tahun ia menunggu. Menunggu satu kata sederhana. Apa saja. Satu kata pun cukup. Ia tidak membutuhkan kalimat panjang. Tidak perlu percakapan yang rumit. Satu kata saja. Air mata menetes tanpa suara.
"Ya Allah..." bisiknya. "Kalau memang belum waktunya, tidak apa-apa." Ajeng menggenggam tangan kecil Saka. "Satu kata saja dulu tak mengapa."
***
Di tengah penantiannya, Ajeng belajar banyak hal. Salah satunya dengan tidak membandingkan Saka dengan anak lain. Setiap anak memiliki keunikan dan kemampuannya masing-masing, termasuk Saka.
Suatu hari, saat mengikuti acara parenting di sekolah Saka. Pembicara tersebut sempat menyampaikan bahwa, "Anak-anak yang tidak dibebani taklif syariat tidak akan dihisab sebagaimana orang dewasa yang berakal sempurna. Justru orang tuanyalah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang diberikan Allah."
Kalimat itu menancap kuat di hatinya. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus memikirkannya. Pikirannya berkecamuk, Apa yang akan kujawab kelak? Apakah aku sudah cukup sabar? Apakah aku sudah cukup lembut? Apakah aku sudah menerima?
Malam itu Ajeng menangis dalam sujudnya. Ia teringat saat-saat dirinya kehilangan kesabaran. Saat nada suaranya meninggi. Saat rasa lelah membuatnya ingin menyerah.
Sejak hari itu, ia berjanji pada dirinya sendiri. Saka bukan sedang membangkang. Saka bukan sengaja mempersulit. Saka hanya sedang berjuang dengan caranya sendiri. Dan sebagai ibu, tugasnya adalah menemani perjuangan itu. Bukan memarahinya. Bukan membentaknya.
***
Pagi itu matahari bersinar hangat. Saka duduk di meja belajar sambil menuliskan angka-angka pada buku latihan. Ajeng memperhatikannya dari dapur. Hatinya dipenuhi rasa syukur. Perjalanan mereka memang belum selesai. Masih panjang. Masih banyak tantangan yang menanti.
Namun, hari ini Saka bisa duduk tenang. Bisa belajar. Bisa menulis. Bisa berhitung. Bisa menunjukkan dunia yang luar biasa di dalam pikirannya. Bukankah itu juga sebuah keajaiban? Ajeng tersenyum. Ia tidak lagi terburu-buru meminta takdir bergerak lebih cepat.
Jika hari ini Saka belum berbicara, tidak apa-apa. Jika esok pun belumpun tak mengapa. Ajeng percaya bahwa semua memiliki waktunya masing-masing. Dan ketika saat itu tiba, mungkin satu kata pertama akan keluar dari bibir putranya. Mungkin besok. Mungkin tahun depan. Atau entah kapan. Namun, hingga hari itu datang, Ajeng akan tetap menunggu. Dengan sabar. Dengan cinta. Dengan keyakinan yang tidak pernah padam. Satu kata saja dulu tak mengapa.
Antalogi Perjuangan Perempuan Hebat
Cerita pendek 'Satu Kata Saja Dulu Tak Mengapa' merupakan salah satu cerita yang bercerita tentang perjuangan perempuan hebat. Ada 15 cerita lainnya yang ditulis oleh teman-teman saya yang tergabung dalam proyek menulis bareng dengan tema Perjuangan Perempuan Hebat.
Ada kekuaran besar dalam setiap diri wanita yang tidak disadari. Wanita dianggap makhluk lemah, tetapi dibalik anggapan itu ada kekuatan luar biasa yang tidak disadari. itulah mengapa hal ini menarik untuk diceritakan.
Perjuangan perempuan hebat bukan berarti perempuan yang mengangkat senjaat untuk berperang. Namun, setiap wanita mempunyai perjuangannya masing-masing. Cerita ini dikemas apik oleh teman-teman penulis lainnya.
Ada yang bercerita tentang perjuangan perempuan yang menjadi istri pertama dan dimadu. Ada pula cerita tentang perjuangan perempuan yang mengalami anorexia. Perempuan yang berjuang sebagai single parent karena suaminya meninggal. Perempuan yang menjalani LDM dengan anak dan suaminya. Perempuan sebagai tulang punggung keluarga yang menjadi korban kecelakaan KRL di Bekasi.
Masih banyak pula cerita menarik lainnya dan saat saya mengompilasinya beberapa kali saya meneteskan air mata karena terhanyut dalam ceritanya. Peerempuan itu unik, kadang tulang rusuk itu beralih menjadi tulang punggung. Kesabaran yang tak dapat dijelaskan dengan kata.
Jika Sobat Dy merasakan penasaran dengan cerita lainnya, maka bukunya dapat masih dapat dipesan, karena saat ini masih dalam proses editing
Bagaimana menurut Sobat Dy tentang perjuangan seorang wanita? Yuk cerita di kolom komentar,















